Awal Studi di Belanda

Penyesuaian Diri untuk Hidup yang Seimbang



Gambar 1 (Foto bersama PPI Wageningen pada hari Batik Nasional)

Penyesuaian diri ke dalam lingkungan yang baru untuk setiap orang memang bervariasi. Bagi sebagian orang, untuk menjadi bagian dalam lingkungan yang baru bukanlah hal yang sulit. Namun, untuk sebagian orang lainnya, terutama yang baru pertama kali bepergian jauh, proses penyesuaian agar bisa “feels like home” mungkin memakan waktu yang lama dan perlu jatuh bangun pula.

Bagi saya sendiri, penyesuaian diri adalah hal yang terpenting di dalam memulia kehidupan baru saya sebagai mahasiswa pascasarjana di Belanda. Menurut saya, semakin cepat saya menyesuaikan diri di tempat saya yang baru, semakin cepat juga saya bisa belajar dan mengembangkan diri saya. Sehingga, 6 bulan sebelum keberangkatan saya ke Belanda, saya mulai menggali informasi dan mempersiapkan kebutuhan-kebutuhan dasar saya sebagai modal awal saya untuk berusaha menciptakan lingkungan ideal pada masa awal beradaptasi.


Gambar 2 – Foto pada saat pekan orientasi bersama teman satu kelompok

Hal yang pertama saya siapkan adalah tempat tinggal, pada umumnya pelajar internasional akan dibantu oleh agen ataupun perwakilan resmi kampus untuk mendapatkan tempat tinggal baik di student housing ataupun tempat lainnya dibawah tanggung jawab lembaga tersebut. Saya sendiri tidak melalui agen resmi tersebut, saya tinggal di sebuah flat bersama dua orang lainnya yang masing-masing berasal dari Itali dan Polandia. Bagi saya, dengan tinggal di satu rumah bersama orang dari bangsa lain adalah salah satu cara  untuk cepat beradaptasi dengan kehidupan internasional. Walaupun pada awalnya saya sempat khawatir jika perbedaan gaya hidup akan memberikan ketidaknyamana, namun ternyata kesempatan ini sangat berharga bagi saya dalam meningkatkan tenggang rasa, keragaman kebudayaan dan juga kuliner dari banyak negara. Kebanyakan dari teman- teman yang memilih student housing juga memiliki cara yang berbeda dalam beradaptasi dengan teman-teman satu koridornya, yaitu misalnya dengan mengadakan makan bersama di communal room/kitchen.

Sebelum dimulainya kalender akademik, hampir semua kampus di Belanda memiliki program orientasi yang diikuti oleh semua mahasiswa baru, di Wageningen di sebut dengan Annual Introduction Days (AID). Dalam rangkaian acara orientasi ini, seluruh mahasiswa baru baik S1, S2, dan S3 akan di bagi ke dalam kelompok besar (sekitar 20 orang) dan selama 5 hari ada banyak kegiatan mulai dari sarapan bersama di taman, bermain di sekitar kota, perkenalan kampus, makan malam di secretariat asosiasi mahasiswa, dan ditutup oleh party. Di kegiatan ini, tidak hanya bertujuan untuk memperkenalkan kampus dan kota Wageningen, namun juga mempererat hubungan antaranggota kelompok, perkenalan dengan kehidupan internasional dan juga budaya di Belanda. Misalnya, ketepatan waktu, budaya bersepeda, norma sosial, kuliner dan yang paling berbeda dengan budaya Indonesia, partying. Walaupun kegiatan ini sarat dengan alkohol dan kegiatan yang jauh dari budaya kita, namun bukan berarti kegiatan ini harus ditinggalkan, seperti saya dan mahasiswa Indonesia lainnya, kami tetap mengikuti rangkaian acara selain partying. Di acara ini, walaupun kita sedang belajar kebudayaan negara lain, bukan berarti kita kehilangan jati diri sebagai orang Indonesia, yang sangat terbiasa hidup dalam perbedaan, memiliki norma kesopanan dan tenggang rasa yang besar.


Gambar 3. Liburan bersama teman-teman

Di Belanda, kita dapat menemui banyak sekali mahasiswa Indonesia yang sedang melanjutkan studi maupun yang sedang magang. Di Wageningen sendiri, ada sekitar 175 mahasiswa baru yang berasal dari Indonesia, sehingga hanya sedikit kemungkinan untuk saya merasa kesepian. Menurut saya, memiliki teman yang berasal dari bangsa yang sama akan membantu kita mengatasi masalah penyesuaian diri karena cara pandang dan berpikir yang kemungkinan besar sama. Memiliki teman yang berasal dari Indonesia membuat saya lebih cepat untuk menyelesaikan masalah-masalah pada saat awal saya penyesuaian diri karena selain bisa dengan mudah berbagi cerita, teman-teman inilah yang banyak membantu saya di saat-saat mendesak dan darurat, misalnya merawat pada saat sakit, mengangkat peralatan bahkan saya pernah melakukan perjalanan liburan bersama mereka.

Ketika kita sudah bisa menyesuaikan ritme kegiatan dengan lingkungan dan cuaca yang baru, maka penyesuaian dengan hal-hal baru lainnya akan menjadi mudah. Bisa dibiliang, work load akademik saya di sini padat, dimana selain kegiatan belajar-mengajar di kelas ada banyak tugas, praktik, simulasi dan perkerjaan kelompok. Di Wageningen University, kalender akademik suatu tahun dibagi menjadi 6 periode, sehingga pada awal saya masuk periode satu, saya memiliki waktu dua bulan untuk menyesuaikan cara belajar saya sebelum ujian. Seperti yang saya sebut dari awal, beda orang beda juga kecepatannya untuk menyesuaikan, biasanya di periode awal ini banyak dari mahasiswa baru yang masih belum terbiasa dengan ritme belajar yang diberikan. Salah satu cara saya untuk bisa mengikuti pelajaran yang ada dikelas adalah fokus terhadap poin-poin penting dari output pembelajaran tiap materi, berdiskusi dengan teman, dan jangan malu untuk bertanya di kelas, dan juka sangat diperlukan, kita bisa bertanya langsung kepada dosen, dan dengan tangan terbuka mereka akan menjelaskan dan memastikan agar kita paham. Menurut saya juga, peting agar mindset kita fokus terhadap pembelajaran terhadap ilmu pengetahuan, bukan hanya untuk sekedar nilai, sehingga ketika kita gagal pada saat ujian, kita tidak menilai diri kita sebagai orang yang bodoh namun mungkin kita kurang memahami materi tersebut. Kegagalan pada saat ujian ini sering membuat kita patah semangat, namun seharusnya hal ini menjadi cambuk bagi kita agar kita lebih bersungguh-sungguh untuk belajar dan menuntut ilmu kedepannya.

Gambar 4- Ambassador CUP 2016 ( Sumber: http://www.ppi-wageningen.org/en/ambassador-cup-2016/)

Selain kegiatan akademik, mengikuti kegiatan non-akademik sesuai dengan minat dan hobi kita juga membuat kita lebih cepat beradaptasi dengan kehidupan sosial. Dengan pekerjaan yang padat, saya dituntut untuk mengatur waktu saya agar saya dapat menyelesaikan tugas tepat waktu dan mengerti isi dari materi tiap kelas. Tentunya, jika saya mengaplikasikan ritme kebiasaan saya pada saat jadi mahasiswa S1, pastinya saya tidak menghasilkan pekerjaan yang baik, selain itu saya juga akan mudah merasakan stress. Sehingga, disela-sela kesibukan saya mengikuti kegiatan yang saya sukai yaitu mengikuti kelas tari, olahraga, hingga belajar bahasa Belanda. Kegiatan-kegiatan tersebut saya lakukan secara teratur sehingga menghindari saya dari stress dan depresi walaupun banyak menghabiskan waktu duduk dan didepan layar komputer.

Terakhir, penyesuaian diri juga saya lakukan terhadap gaya hidup. Berbeda dengan di Indonesia, di hampir semua negara khususnya di Eropa, akan sangat mahal jika kita selalu membeli makanan di restoran atau di kios-kios makanan. Kampus pada umumnya akan menyediakan makanan, namun harganya pun kadang tidak sesuai dengan kantong mahasiswa. Hal itulah yang membuat saya merubah pola hidup saya dengan mempersiapkan makanan saya setiap harinya. Tentunya, saya tidak memiliki waktu untuk terus memasakan Indonesia, saya banyak belajar menyiapkan makanan yang sederhana, sehat dan mengenyangkan dari teman negara lain. Mengetahui kuliner dari negara lain tidak hanya bisa membuat kemampuan memasak saya menjadi meningkat tetapi juga membatu saya beradaptasi dengan keadaan cuaca dan iklim di sini melalui makanan yang saya makan.

Banyak hal baru yang saya dapatkan semenjak tiga bulan yang lalu saya datang di Belanda. Saya sendiri masih ingin mencoba hal baru baik dalam kegiatan akademik maupun non akademik, sehingga akan ada banyak bentuk penyesuaian diri yang harus saya lakukan agar setiap kesempatan tidak saya sia-siakan. Tentunya semua proses penyesuaian diri harus dilandasi dengan kebijaksanaan untuk memilih mana yang baik dan mana yang tidak patut untuk di tiru, pada saat inilah proses saya mendekat kepada Tuhan juga di bentuk, agar tujuan Tuhan menempatkan saya di sini tidak saya lupakan. Kesempatan untuk menuntut ilmu di negeri orang adalah hal yang sangat mahal, akan sayang sekali ketika energi muda yang kita punya tidak kita manfaatkan untuk menggali pegalaman baru dan nantinya pengalaman itu akan menjadi modal kita di masa yang akan datang.

Wageningen,

Andri Zainal Kari

Genta | Gelora Nusantara | Persiapan Keberangkatan angkatan 45 penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan Indonesia